Iklan

Ayo Gabung GRATIIISSSS

Dunia Islam dan Ebook Gratis

↑ Grab this Headline Animator

WEBOSTING GRATIS

Free Website Hosting

Join FriendFinder - Find Your Special Someone!
lowongan kerja di rumah
Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2009

Sikap Hidup Seorang Muslim

oleh : Abu Ubaidillah
>

>
> Manusia hidup di dunia ini pasti mendapatkan berbagai kesulitan. Ini
> adalah ketetapan dari Allah SWT. Dia telah berfirman: “Sesungguhnya Kami
> telah menciptakan manusia berada dalam susah payah “ ( QS.Al-Balad:4 )
>
>
> Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha
> Bijaksana, menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sangat agung.
> Oleh karena itulah, Allah juga membekali manusia dengan berbagai sarana
> dan kemampuan untuk bisa menghadapi kesulitan tersebut.
>
>
> HIDUP ADALAH UJIAN
>
> Ketetapan Allah ini menunjukkan bahwa kehidupan adalah ujian bagi
> manusia. Dengan adanya berbagai kesulitan ini, manusia akan
> terklasifikasi berdasarkan sikap mereka dalam menghadapinya dan akibat
> dari sikap tersebut. DI antara mereka ada yang mendapatkan kecintaan
> Allah, sedangkan yang lain mendapatkan kemurkaan-Nya.
>
>
> Allah SWT berfirman: “ Yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya
> Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia
> Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. ( QS.al-Mulk:2 )
>
>
> SIKAP MANUSIA
>
> Dalam ujian hidup ini, setiap manusia pasti memiliki harapan untuk
> mendapatkan manfaat atau menolah bahaya. Akan tetapi dalam mewujudkan
> harapan ini manusia memiliki sikap dan jalan yang berbeda-beda, sesuai
> dengan keyakinan dan akidah mereka. Disinilah kita harus memperhatikan
> apakah sikap kita berdasarkan akidah yang benar atau yang keliru? Jika
> berdasarkan akidah yang benar, maka benarlah sikap kita dan jalan yang
> kita tempuh. Jika sebaliknya, bersegeralah mencari jalan kebenaran itu.
>
>
> Secara global, manusia terbagi dalam tiga kelompok:
>
>
> Pertama:Orang yang meyakini bahwa manusia tidak memiliki usaha. Dia
> menganggap bahwa manusia hanyalah bagaikan kapas tertiup angin, tidak
> memiliki kehendak dan usaha. Orang ini bermalas-malasan dalam berusaha
> menggapai maslahat ( kebaikan ) dan menolak bahaya. Sikap ini jelas
> bertentangan dengan firman Allah SWT: “ Sesungguhnya Allah tidak
> mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka
> sendiri”. ( QS.ar-Rad:11 )
>
>
> Kedua:Orang yang bersandar penuh kepada usaha dan kemampuan dirinya. Dia
> menyangka bahwa datangnya kebaikan dan tertolaknya bahaya tergantung
> mutlak kepada usaha yang dilakukannya. Orang seperti ini berarti telah
> meniadakan kemampuan Allah dalam menetapkan takdir. Alangkah sombongnya
> orang semacam ini, padahal jika Allah menimpakan bencana kepadanya, dia
> tidak akan bisa mengelak.
>
>
> Ketiga:Orang yang berada dipertengahan antara dua golongan diatas. Dia
> meyakini bahwa manusia memiliki kehendak dan kemampuan untuk berusaha
> mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, bersamaan dengan ini dia
> menyadari bahwa usaha yang dilakukannya tetap bergantung kepada kehendak
> Allah. Dengan demikian, dalam melakukan usahanya, dia senantiasa
> bergantung kepada Allah. Jika usaha yang dilakukannya berhasil, dia akan
> memuji Allah. Jika gagal, dia akan berintrospeksi diri dan tidak merasa
> putus asa. Ini sangat sesuai dengan firman Allah SWT:” Sesungguhnya
> ( ayat-ayat ) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki
> ( kebaikan bagi dirinya ) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya.
> Dan kamu tidak mampu ( menempuh jalan itu ), kecuali bila Allah
> menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
> Bijaksana” ( QS.al-Insaan:29-30 )
>
>
> PERHATIKAN USAHAMU!!!
>
> Setelah kita memahami sikap yang benar dalam menghadapi kehidupan, yaitu
> berusaha mendapatkan kebaikan dan menolak bahaya dengan tetap bergantung
> dan menyandarkan hasilnya hanya kepada Allah, maka ada satu hal lain
> yang harus kita pahami dan perhatikan. Hendaknya, usaha yang kita
> lakukan benar-benar sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Allah. Dengan
> kata lain, usaha kita tidak bertentangan dengan syariat Allah. Tentunya
> cita-cita tertinggi seorang muslim adalah menggapai kecintaan dan
> keridhaan Allah.
>
>
> Untuk itulah, jangan sampai usaha kita tercampur dengan kesyirikan,
> kebid'ahan ( perkara baru dalam agama ), atau kemaksiatan kepada Allah
> SWT dan Rasul-Nya.
>
>
> Barangkali dengan contoh akan lebih mudah bagi kita untuk memahaminya.
> Seorang pedagang, misalnya, agar dagangannya laris dia membuat jimat-
> jimat penglaris. Sama halnya dengan seorang mujahid yang berperang
> membela agama, tetapi dia menggunakan ilmu kekebalan, misalnya. Usaha
> ini adalah usaha yang bercampur dengan kesyirikan.
>
>
> Contoh lain, seorang ahli ibadah ingin mendapatkan pahala yang banyak
> dari Allah, tetapi dia melakukan berbagai bentuk ibadah baru yang tidak
> pernah disyari'atkan oleh Rasulullah saw. Ini merupakan usaha yang
> bercampur dengan kebid'ahan.
>
>
> Contoh berikutnya, seorang pedagang menjual barang dagangannya dengan
> berdusta dan mentupi cela barangnya, maka ini adalah usaha yang
> bercampur dengan kemaksiatan.
>
>
> Akhirnya, kita senantiasa memohon kepada Allah agar melapangkan hati
> kita untuk menerima kebenaran dan mengikutinya. Wallahul Muwaffiq.
>
>
> Sumber : Majalah Nikah Vol.7, No.12, Maret-April 2009, Rubrik: Landasan
> Utama, hal.34-35
>

Kolom Tutorial


Masukkan Code ini K1-2B5648-E
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Powered By Blogger