Iklan

Ayo Gabung GRATIIISSSS

Dunia Islam dan Ebook Gratis

↑ Grab this Headline Animator

WEBOSTING GRATIS

Free Website Hosting

Join FriendFinder - Find Your Special Someone!
lowongan kerja di rumah
Tampilkan postingan dengan label kebesaran Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebesaran Allah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2009

Misteri Ka’bah dan Hajar Aswad

Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah. Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, di berkata : “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada asalan tersembunyi dibalik penghapusan website.tersebut.Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam. ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877)

Asal dan Sejarah Hajar Aswad
Sebuah batu bundar yang berwarna hitam dan berlubang, terletak di sudut timur Kaabah atau sebelah kiri Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Kaabah), tingginya sekitar 150 sentimeter, di atas tanah.

Batu ini mempunyai lingkaran sekitar 30 sentimeter dan garis tengah 10 sentimeter, lebih besar daripada lingkaran muka seseorang. Kerana itu, seseorang yang ingin mencium batu ini harus memasukkan mukanya ke dalam lubang itu. Kepala yang besar pun dapat dimasukkan ke dalam lubang batu hitam ini. Bahagian luar batu hitam ini diikat dengan pita perak yang berkilat.

Menurut banyak riwayat, antara lain daripada Abdullah bin Umar bin Khattab, Hajar Aswad berasal dari syurga. Riwayat oleh Sa’id bin Jubair r.a daripada Ibnu Abbas daripada Ubay bin Ka’b r.a, menerangkan bahawa Hajar Aswad dibawa turun oleh malaikat dari langit ke dunia. Abdullah bin Abbas juga meriwayatkan bahawa Hajar Aswad ialah batu yang berasal dari syurga, tidak ada sesuatu selain batu itu yang diturunkan dari syurga ke dunia ini.

Riwayat-riwayat di atas disebutkan oleh Abu al-Walid Muhammad bin Abdullah bin Ahmad al-Azraki (M.224 H/837 M), seorang ahli sejarah dan penulis pertama sejarah Mekah.Tidak ditemukan informasi yang jelas tentang siapa yang meletakkan Hajar Aswad itu pertama kali di tempatnya di Kaabah; apakah malaikat ataukah Nabi Adam a.s.

Pada mulanya Hajar Aswad tidak berwarna hitam, melainkan berwarna putih bagaikan susu dan berkilat memancarkan sinar yang cemerlang.Abdullah bin Amr bin As r.a (7 SH-65 H) menerangkan bahawa perubahan warna Hajar Aswad daripada putih menjadi hitam disebabkan sentuhan orang-orang musyrik. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Zubair bin Qais (M. 76 H/65 M).

Dikatakannya bahawa sesungguhnya Hajar Aswad adalah salah satu batu dunia yang berasal dari syurga yang dahulunya berwarna putih berkilauan, lalu berubah menjadi hitam kerana perbuatan keji dan kotor yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Namun, kelak batu ini akan berwarna putih kembali seperti sedia kala. Menurut riwayat Ibnu Abbas dan Abdullah bin Amr bin As, dahulu Hajar Aswad tidak hanya berwarna putih tetapi juga memancarkan sinar yang berkilauan. Sekiranya Allah s.w.t tidak memadamkan kilauannya, tidak seorang manusia pun yang sanggup mamandangnya.

Pada tahun 606 M, ketika Nabi Muhammad s.a.w berusia 35 tahun, Kaabah mengalami kebakaran besar sehingga perlu dibina kembali oleh Nabi Muhammad s.a.w dan kabilah-kabilah terdapat di Mekah ketika itu. Ketika pembangunan semula itu selesai, dan Hajar Aswad hendak diletakkan kembali ke tempatnya, terjadilah perselisihan di antara kabilah-kabilah itu tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkan batu itu di tempatnya.

Melihat keadaan ini, Abu Umayyah bin Mugirah dari suku Makzum, sebagai orang yang tertua, mengajukan usul bahawa yang berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya adalah orang yang pertama sekali memasuki pintu Safa keesokan harinya.

Ternyata orang itu adalah Muhammad yang ketika itu belum menjadi rasul. Dengan demikian, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad itu di tempatnya. Akan tetapi dengan keadilan dan kebijaksanaannya, Muhammad tidak langsung mengangkat Hajar Aswad itu. Baginda melepaskan serbannya dan menghamparkannya di tengah-tengah anggota kabilah yang ada.

Hajar Aswad lalu diletakkannya di tengah-tengah serban itu. Baginda kemudian meminta para ketua kabilah untuk memegang seluruh tepi serban dan secara bersama-sama mengangkat serban sampai ke tempat yang dekat dengan tempat diletakkannya Hajar Aswad. Muhammad sendiri memegang batu itu lalu meletakkannya di tempatnya. Tindakan Muhammad ini mendapat penilaian dan penghormatan yang besar dari kalangan ketua kabilah yang berselisih faham ketika itu.

Awalnya, Hajar Aswad tidak dihiasi dengan lingkaran pita perak di sekelilingnya. Lingkaran itu dibuat pada masa-masa berikutnya. Menurut Abu al-Walid Ahmad bin Muhammad al-Azraki (M. 203 H), seorang ahli sejarah kelahiran Mekah, Abdullah bin Zubair adalah orang pertama yang memasang lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad, setelah terjadi kebakaran pada Kaabah.

Pemasangan pita perak itu dilakukan agar Hajar Aswad tetap utuh dan tidak mudah pecah. Pemasangan pita perak berikutnya dilakukan pada 189 H, ketika Sultan Harun ar-Rasyid, Khalifah Uthmaniah (memerintah tahun 786-809 M), melakukan umrah di Masjidil Haram. Ia memerintahkan Ibnu at-Tahnan, seorang pengukir perak terkenal ketika itu, untuk menyempurnakan lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad dan membuatnya lebih berkilat dan berkilau.

Usaha berikutnya dilakukan oleh Sultan Abdul Majid, Khalifah Uthmaniah (1225-1277 H/1839-1861 M). Pada tahun 1268 H, baginda menghadiahkan sebuah lingkaran emas untuk dililitkan pada Hajar Aswad, sebagai pengganti lingkaran pita perak yang telah hilang. Lingkaran emas itu kemudian diganti semula dengan lingkaran perak oleh Sultan Abdul Aziz, Khalifah Uthmaniah (1861-1876 M).

Pada 1331 H, atas perintah Sultan Muhammad Rasyad (Muhammad V, memerintah pada tahun 1909-1918), lingkaran pita perak itu diganti dengan lingkaran pita perak yang baru. Untuk menjaga dan mengekalkan keutuhannya, Hajar Aswad sering dililit dan dilingkari dengan lingkaran pita perak.


lowongan kerja di rumah

lowongan kerja di rumah

Minggu, 12 April 2009

KEKUATAN AIR MATA

oleh M. ArifAs-Salman Senin,
16/03/2009 09:20 WIB

Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitasmahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Sukamenyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikutisebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dantenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang.Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dariilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadikesenangan tersendiri bagi saya. Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah iasering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa IndonesiaKairo (PMIK). Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti.Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah dimesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diribermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat,bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yangada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya inginmengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihanhati dan pikirannya. Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya,bahwa ia sering kedapatan menangis.. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis.Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, "Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan sayatidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorgaataukah neraka." Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri disampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, "celakalah aku". Dan dia akanmasuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia)bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakinbahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian),yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (Al-Insyiqâq: 10-15 ).Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan airmendidih dari rongga dadanya. Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas diwajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh denganAl-Qur`ân. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, paraAl-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra.sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannyaterdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra.membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanya pada Allahsaya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. " ( Yusuf : 86 ) Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagiterdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membacaayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilahperasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akanmenggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar. Rasulullah Saw. bersabda, "Akar dari kebijaksanaan adalah takutkepada Allah." Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah." (Ar-Rahman: 37),maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata,"Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku." Nabi berkata padanya, "Tangisanmu membuat paramalaikat ikut menangis bersamamu." Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabatRasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan ituistrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapaengkau menangis?" istrinya menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis,itulah yang menyebabkan saya menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingatbahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah sayaakan selamat atau tidak." Rasulullah Saw. bersabda : "Wajah yang dibasahi air mata karenatakut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka." Beliaujuga bersabda, "Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidakakan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali keputingnya." Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Adakah diantarapengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?", "Ia" jawab Nabi. "Diaadalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ialakukan." Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nyadan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya." Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting danbermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosadan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagikita. Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, didalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannyabanyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saatbersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan. Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dandosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangatjarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kitahitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân waa`lam

Ebook Gratis dan software gratis free ebook free software
Ebook cara membuat website

Kolom Tutorial


Masukkan Code ini K1-2B5648-E
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Powered By Blogger